CILEGON —bahrinews.id- Ada pemandangan berbeda dalam aksi unjuk rasa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cilegon yang berlangsung hingga Selasa (15/9/2026) malam di depan Kantor Wali Kota dan DPRD Kota Cilegon.
Di tengah riuhnya penyampaian aspirasi mahasiswa, sosok Wakapolres Cilegon Kompol M. Ridzky Salatun, S.I.K. justru memilih berada lebih dekat dengan massa. Ia turun langsung ke tengah-tengah mahasiswa, duduk bersama mereka, dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan.
Sikap tersebut mencerminkan pola pengamanan yang mengedepankan pendekatan humanis. Aparat tidak hanya hadir untuk menjaga situasi tetap aman, tetapi juga membuka ruang komunikasi agar penyampaian aspirasi berlangsung dalam koridor yang tertib.
Pemandangan itu turut mendapat perhatian pengguna jalan yang melintas di sekitar lokasi. Pendekatan aparat yang tetap tenang dan komunikatif dinilai menciptakan suasana aksi yang lebih kondusif, meski massa mahasiswa masih bertahan hingga malam hari.
Aksi HMI Cilegon sendiri berlangsung dengan sejumlah bentuk ekspresi kritik terhadap pemerintah. Salah satunya melalui pemasangan spanduk di depan gerbang DPRD dan Kantor Wali Kota Cilegon bertuliskan “Gedung Ini Disita HMI.”
Pesan tersebut menjadi simbol penegasan sikap mahasiswa sekaligus bagian dari kritik yang mereka sampaikan terhadap pemerintah daerah.
Di sisi lain, personel Polres Cilegon bersama Satpol PP tetap bersiaga di sekitar lokasi. Pengamanan dilakukan secara persuasif sembari memantau perkembangan situasi dan memastikan aktivitas masyarakat serta pengguna jalan tetap dapat berlangsung.
Massa aksi juga mendirikan dua tenda sebagai bentuk keseriusan mereka dalam mengawal tuntutan. Mereka menyatakan akan tetap bertahan hingga memperoleh kesempatan untuk berdialog secara langsung dengan pihak Pemerintah Kota Cilegon, khususnya Wali Kota.
Hingga malam hari, situasi di lokasi aksi terpantau aman dan kondusif. Tidak terlihat adanya tindakan represif dalam pengamanan, sementara mahasiswa tetap diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat.
Kehadiran Wakapolres Cilegon di tengah massa menjadi gambaran bahwa pengamanan demonstrasi tidak selalu harus dibangun dengan jarak. Justru melalui kedekatan, komunikasi dan sikap saling menghormati, ruang demokrasi dapat dijaga tanpa mengorbankan ketertiban.
Sebab dalam demokrasi, aspirasi tidak harus dibungkam dan ketertiban tidak harus dipertentangkan dengan kebebasan. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika dialog ditempatkan sebagai jembatan dan hukum menjadi pijakan.
(Tim Cilegon)